Selasa, 26 Agustus 2014

Investasi PT Mifa dan Medco Jalan, Pacific Oil Terkendala

LANGSA - Investasi berskala besar yang ditanamkan beberapa investor di Aceh, tidak semuanya terkendala pascakonflik. Paling tidak, ada contoh perusahaan seperti Lafarge dari Prancis yang menaungi PT Semen Andalas Indonesia (SAI) di Lhoknga, Aceh Besar, maupun eksploitasi batubara oleh PT Mifa Bersaudara di Aceh Barat yang operasionalnya masih jalan hingga kini. Mifa bahkan terus menambah investasinya dan kini merekrut lagi 400 tenaga kerja baru.

Namun, di balik success story itu ada juga perusahaan bermodal besar, bahkan berlevel multinasional, yang kini investasinya terkendala di Aceh. Misalnya, Pacific Oil and Gas yang tadinya ingin menggarap sektor minyak dan gas (migas) di Aceh Timur.

Penelusuran Serambi, Jumat (30/5) kemarin, sejumlah perusahaan migas masih mengelola investasinya di pantai timur Aceh. Mulai dari Block Pase--meliputi Aceh Utara dan Aceh Timur--yang dikelola Triangle Energy Global hingga North Sumatra Offshore yang mengelola kawasan perbatasan Aceh Tamiang-Sumatera Utara, 12 mil lepas pantai. Kemudian, PT Pacific Oil & Gas di Kecamatan Ranto Peureulak yang kabarnya sudah hengkang. Terakhir, ada perusahaan eksploitasi migas asal Amerika, Transworld Seruway Exploration yang sedang survei di lepas pantai Aceh Timur, Langsa, dan Tamiang.

Sudah beberapa bulan ini Pacific Oil tak tampak lagi beroperasi di Aceh Timur. Penyebabnya pun tak begitu jelas. Namun, PT Medco E&P Malaka masih terlihat beraktivitas, tak vakum seperti halnya Pacific Oil & Gas. Cuma, apakah iklim investasi Medco di Aceh Timur saat ini cukup sehat dan aman, Serambi belum mendapatkan jawaban pasti.

Public Relation PT Medco E&P Malaka, Akhyar yang ditanyai Serambi, Jumat (30/5) kemarin mengenai hal itu mengatakan, tak bisa menjawab dengan serta merta pertanyaan yang diajukan wartawan karena hal tersebut terkait dengan kebijakan dan kewenangan korporat. “Silakan mengirim e-mail resmi dengan melampirkan pertanyaan tertulis,” ujarnya menanggapi Serambi yang ingin menindaklajuti liputan eksklusif yang dipublikasi kemarin berjudul Susahnya Menggaet Investor.

Ditanya lagi tentang iklim investasi Medco di Block A, Akhyar mengatakan, tidak cuma Medco, di Aceh Timur juga masih ada beberapa perusahaan lain yang masih beroperasi. “Kami minta maaf, tak bisa menjawab soal itu, coba ke perusahaan lain saja,” kata dia.

Operasional Medco di Aceh Timur sempat terkendala beberapa waktu setelah kasus penculikan Malcolm Prim Rose (63), warga Inggris yang bekerja di PT Blade Energy, subkontraktor PT Medco pada Juni 2013. Setelah tenaga ahli bidang drilling itu diculik dan kemudian dibebaskan, Medco menarik semua stafnya di lapangan. Yang tinggal hanya beberapa stafnya yang kini berkantor di sebuah hotel di Kota Langsa.

Selain masih ada keluhan masalah keamanan di lapangan, Medco juga masih dihadapkan pada kendala perizinan dari birokrat. “Proses birokrasi oleh Pemeritah Aceh masih berbelit-belit. Misalnya saja, soal izin penggunaan lokasi pembangunan jaringan instalasi di Julok yang belum keluar,” kata sumber Serambi kemarin.

Sumber yang dekat dengan perusahaan migas di Aceh Timur itu menambahkan, meski sudah melengkapi semua syarat, namun Medco belum kantongi izin yang seharusnya dikeluarkan melalui kantor layanan satu pintu di Banda Aceh. “Aneh juga, Pemerintah Aceh tidak mempercepat proses birokrasi untuk kepentingan investor,” ujarnya. 

Sumber itu juga menyatakan, investasi migas di Block A yang dikuasai Medco, masih belum menunjukkan hasil optimal.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar